Apakah Kemiskinan itu Takdir ?
Pagi-pagi saya bertemu dengan salah seorang kawan, belum beberapa menit saya duduk dia langsung bicara, “Rif lihat nggak ada tulisan yang menyatakan bahwasanya kemiskinan itu takdir?” Saya pun bertanya “tulisan siapa dan siapa yang bicara”, kata saya. Salah satu calon gubernur ujar.
Dalam hati saya berfikir,sebentar lagi memang hari pencoblosan di Kalsel, maka segala apapun yang bisa di jual maka di jual oleh para kandidat melalui tim suksesnya. Selama ini saya yang biasa berkutat dengan surat kabar atau berita, kadang tidak 100 % mempercayai berita yang ditulis, kecuali saya meliat dan mendengar dari sumbernya.
Namun pembicaraan saya dan kawan saya di pagi hari ini, membuat saya mereview debat kandidat cagubcawagub kalsel yang ditayangkan beberapa lalu, dan memang ada salah satu cagub dalam debat kandidat yang menyatakan bahwasanya “kemiskinan itu adalah takdir”, pantes saja ada beberapa kawan di wall facebooknya tersinggung dengan peryataan cagub tersebut, dan saya pun juga demikian.
Menurut saya kemiskinan bukanlah takdir, karena kemiskinan merupakan bagian dari kehidupan yang harus dirubah oleh manusia dengan berusaha. ”bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya.” Seseorang yang hanya diam tanpa berusaha maka dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan Rasulullah pernah menegur sahabat yang hanya diam di masjid berdoa tanpa berusaha menghidupi keluarganya.
Menurut Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, Dosen IAIN Sunan Ampel, untuk berusaha , maka dibutuhkan tiga hal utama, yaitu: kemampuan akal, kemampuan fisik dan struktur sosial yang mendukung akses ”keduniawian” tersebut. Melalui kemampuan akal, kecerdasan, pendidikan, keahlian atau profesionalitas, yang didukung oleh kesehatan fisik yang memadai serta didukung oleh struktur sosial yang memberi peluang untuk berusaha, maka dimungkinkan bahwa seseorang akan mampu berkembang dalam mengakses kehidupan duniawi.
Untuk memahami tentang pentingnya struktur yang memberi peluang bagi pengentasan kemiskinan adalah apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya. Dukungan struktur yang baik terhadap kemungkinan akses ekonomi, ternyata bisa menjadi jalan keluar dari masalah kemiskinan. Dengan pemberian modal yang sesuai dengan kebutuhan mereka, maka mereka bisa mengakses perekonomian yang selama ini tertutup.
Sehingga pada dasarnya kemiskinan itu bukanlah takdir, bahkan selama di perjalanan pagi ini, saya berfikir alangkah sombongnya seseorang yang menyatakan kemiskinan itu takdir, sebagaimana dia juga bisa mengatakan saya menjadi kaya adalah takdir.

.jpg)
May 31st, 2010 at 2:06 am
Saya pikir, kemiskinan bukanlah takdir, tapi “pemiskinan” yang merupakan takdir, kebodohan bukanlah takdir, melainkan “pembodohan”… Karena pemiskinan dan pembodohan dilakukan oleh orang lain, yang berkuasa, playing God, secara sistematis, di luar kuasa orang-orang yang dimiskinkan dan dibodohkan…
May 31st, 2010 at 3:07 am
Menurut saya, kemiskinan itu disebabkan dua faktor, yaitu faktor intern dan extern.
Secara intern bisa berupa kekuatan do’a, dan motif-motif batiniyah. Do’a dan motif seperti duamata uang yang tak terpisahkan. Kalau dinisbathkan pada sifat wajib Allah sama dengan Sifat Qudrah dan Iradah. Sifat Qudrah Allah dibatasi oleh Sifat Iradah Allah, artinya Allah Maha Kuasa dengan berbuat apa saja bila Allah Menghendaki. Menurut saya begitulah manusia, dia sebesar apapun kekuatannya, bila tidak ada kemauan(motif-motif batiniyah) maka sebatas itulah kekuatan do’anya.
Secara extern jelas sekali berasal dari unsur-unsur dhohiriyah dari luar diri kita. Seberapa besar pengaruh unsur luar tersebut bisa menjadi ukuran seberapa besar respon kita.
Bagaimanakah dengan kemiskinan ?
Sabda Rosululloh:”Yang disebut orang kaya adalah orang yang kaya hatinya”. Artinya kemiskinan itu terjadi pada diri siapa saja, yang di hatinya ada indikator selalu merasa kekurangan secara dhohiriyah.
Kita bicara kemiskinan seringkali dinisbathkan pada keadaan material yang dimiliki seseorang.
Singkatnya Kemiskinan Akan Tetap MIskin, Bila Konotasinya Selalu Materi dan Materi.
Terima kasih!
June 5th, 2010 at 10:57 am
Jawabnya Relatif. Tergantung kita maunya bagaimana, *bener nga ya*